Connect with us

Hi, what are you looking for?

Petani menanam winih padi di sawah. SHUTTERSTOCK
Petani menanam winih padi di sawah. SHUTTERSTOCK
Petani menanam winih padi di sawah. SHUTTERSTOCK/UNSPLASH

OPINI & TESTIMONI

Sistem dan Upaya Memperkuat Ketahanan Pangan

Populasi penduduk dunia diprediksi akan mengalami kenaikan hingga 9,8 milyar pada tahun 2050. Pertambahan populasi ini akan mendorong peningkatan kebutuhan yang besar terhadap pangan, air dan energi.

Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini menyadarkan umat manusia untuk menyiapkan berbagai upaya dan terobosan menghadapi berbagai ancaman krisis, terutama krisis pangan. Ketika pembatasan sosial terjadi, salah satu cara untuk menjaga agar tidak terjadi social unrest adalah memastikan tercukupinya ketersediaan pangan bagi setiap individu.

Di Indonesia, pangan merupakan isu yang strategis di masa sekarang dan masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan pangan, baik dari sisi produksi, distribusi dan konsumsi, sangat erat kaitannya dengan dimensi sosial, ekonomi dan politik rakyat. Pendek kata, urusan pangan, merupakan urusan yang sangat strategis dan kompleks, yang keberadaannya ikut menentukan masa depan bangsa dan negara.

Sistem pangan nasional melibatkan sistem pertanian, sistem industri, sistem logistik dan pergudangan, sistem distribusi dan perdagangan, dan sistem kelembagaan pangan. Masing-masing sistem tersebut ditopang oleh sub-sub sistem dan komponen-komponen sistem yang beragam.

Sistem pangan nasional yang kompleks yang didukung berbagai sub-sistem penopang, dalam prosesnya juga melibatkan bermacam-macam aktor dengan kepentingan-kepentingannya yang beragam, yang kadang kala tak sejalan atau bahkan saling berkompetisi antara satu dengan yang lainnya. Kebijakan dalam sistem pangan nasional sebagai sebuah kebijakan publik juga lahir melalui hasil dari proses interaksi antar aktor.

Proses tersebut tidak berada di dalam ruang yang hampa melainkan berada dalam konteks situasi saling pengaruh dari faktor lingkungan, baik faktor lingkungan domestik maupun lingkungan internasional. Kompetisi antar-aktor dengan ragam kepentingan ini tentunya tidak gampang untuk dikelola di tengah kewajiban negara (pemerintah) menjamin adanya kontinuitas ketersediaan pangan untuk rakyat.

Ketahanan Pangan Jadi Kunci

Ketahanan pangan tentu menjadi kunci untuk menghadapi ancaman krisis pangan di masa depan. Berbagai upaya telah dilakukan Indonesia untuk meningkatkan ketahanan pangan seperti penyediaan pupuk bersubsidi, pembangunan infrastruktur irigasi, penyediaan bibit, benih, kredit dan berbagai input lainnya.

Upaya terbaru adalah mengembangkan kawasan food estate di sejumlah daerah yang akan menjadi kawasan pertanian yang dikelola mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari tanam hingga penjualan, yang dilakukan secara sinergi dan berkelanjutan. Food estate di Kalimantan Tengah akan dikembangkan untuk padi dan singkong. Di Sumatera Utara dikembangkan untuk bawang merah, bawang putih dan kentang. Food estate di Nusa Tenggara Tengah (NTT) akan dikembangkan untuk padi dan jagung. Kedepan, kawasan food estate perlu diperluas seperti di Sulawesi untuk kedelai dan jagung dan pengembangan padi di Maluku, termasuk Pulau Buru.

Pemerintah juga telah menerapkan manajemen kebijakan pangan terhadap komoditi strategis seperti beras, jagung, kedelai, gula, daging sapi, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, daging dan telur ayam serta tepung terigu.

Global Food Security Index secara komprehensif menetapkan indeks ketahanan pangan lingkup internasional memiliki tiga dimensi yaitu: keterjangkauan (affordability), ketersediaan (availability), serta kualitas dan kemanan (quality and safety).

Ketersediaan, akses (kerterjangkauan) dan kualitas (keamanan) pangan bagi 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia menjadi kerja sepanjang waktu yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Untuk memenuhinya diperlukan desain kebijakan dan manajemen pengelolaan pangan yang tepat sesuai dengan kondisi empirik di lapangan.

Untuk itu, sedikitnya enam pendekatan yaitu kesesuaian iklim, kecocokan topografi wilayah, pengembangan sumberdaya manusia (SDM) petani, pemanfaatan teknologi, peta eksisting pangan, rencana perluasan on-farm dan of-farm kedepan, dan dukungan kebijakan daerah untuk swasembada, menjadi aspek yang harus hadir agar ketahanan pangan yang kuat bisa terwujud.

Kesesuian iklim dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan bisa dilihat dengan kasat mata. Saat iklim kondusif dengan komoditi pangan, maka hasil yang akan diperolah akan berbanding lurus yaitu produksi pangan yang tinggi. Hal sebaliknya terjadi, ketika iklim tidak cocok maka produksi tanaman pangan akan menurun drastis. Kita ketahui bersama bahwa Indonesia dilewati oleh garis khatulisitiwa dengan iklim tropis dua musim. Wilayah bagian selatan banyak mengalami musim kemarau dan di wilayah bagian utara sering mengalami musim hujan. Oleh karena itu, komoditi pangan yang dikembangkan harus disesuaikan dengan iklim yang ada.

Indonesia merupakan negara dengan kondisi topografi wilayah yang beraneka-ragam mulai dari dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan. Daerah dataran rendah cocok untuk pengembangan padi, jagung dan kedele. Sementara dataran tinggi cocok untuk sayur-sayuran dan hortikultura.

Data BPS tahun 2018 menyebutkan jumlah petani Indonesia sebesar 33.487.806 orang. Untuk daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, seperti Jawa, NTT dan NTB pengembangan food estate dengan menggabungkan pendekatan manual dan teknologi menjadi pilihan terbaik.
Pemanfaatan teknologi mempercepat tumbuhnya agroindustri pangan lokal dan berbagai inovasi secara simultan sesuai kebutuhan pasar. Untuk daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua pengembangan food estate lebih tepat dilakukan dengan pendekataan teknologi dan korporasi.

Peta eksisting pangan juga sangat dibutuhkan mengingat keberadaan lahan dan luasannya di Indonesia yang terus berubah. Peta eksisting pangan ini penting menjadi pertimbangan pengembangan kawasan komoditi pangan andalan. Oleh karena itu, peta eksisting pangan untuk 34 popinsi menjadi kebutuhan mendesak yang perlu disiapkan sedini mungkin.

Rencana perluasan on-farm yang dilakukan dalam lahan budidaya dan of-farm melalui proses pengolahan, pemasaran dan distribusinya menjadi aspek penting memperkuat ketahanan pangan. Perluasan on-farm dan of-farm bisa ditempuh dengan membangun suatu pola kemitraan petani dengan institusi pemasaran yang difasilitasi oleh pemerintah atau model korporasi pertanian.

Terkait aspek dukungan pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten dilakukan dengan pencapaian swasembada pangan untuk komoditi yang cocok dan pas di wilayahnya masing-masing.

Jika enam pendekatan tersebut disiapkan dengan baik dan dikelola dengan manajemen kebijakan pangan yang tepat, kami meyakini upaya pemerintah dalam menghadirkan ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan dapat terwujud. Dalam pengertian lain, pemerintah tak hanya menyediakan pangan yang bisa dijangkau rakyat dengan murah dan aman, tapi juga mampu mewujudkan nilai tambah bagi petani dan meningkatkan kesejahteraan petani. (Artikel juga sudah tayang di Jawa Pos dan Wantimpres.go.id .


Oleh: Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum (Pak Dhe Karwo) Dewan Pertimbangan Persatuan Alumni GMNI, Mantan Gubernur Jawa Timur dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI (Wantimpres RI).

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Dari Alumni

BERITA

Ketua Umum PA GMNI Ahmad Basarah menyatakan organisasi tersebut dan anggotanya berkeyakinan tesis tentang nasionalisme bukan hanya jawaban melawan kolonialisme. Organisasi itu meyakini nasionalisme...

ACARA

Dalam rangka Pra Kongres IV Persatuan Alumni GMNI, mengundang dalam acara Orasi Kebangsaan: “Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman” Pembuka: Dr. Ahmad Basarah Wakil Ketua MPR...

BERITA

Jakarta – Jelang kongres PA GMNI ke IV DPD PA GMNI Jakarta menggelar konsolidasi organisasi guna menyatukan barisan dan memperkuat konsolidasi organisasi yang dilaksanakan...

OPINI & TESTIMONI

Perkembangan global yang begitu pesat kemajuannya, di mana negara-negara di dunia berlomba dengan memperlihatkan keunggulannya di berbagai bidang, meskipun hampir semua negara di dunia...

close